Minggu, 07 April 2024

KOMPETENSI KOMUNIKASI PELATIH TERHADAP PRESTASI




Kemampuan  teknis  kecabangan  umumnya pasti dikuasai oleh pelatih karena mereka yang berprofesi sebagai pelatih melalui pendidikan formal atau mantan atlet yang  sudah  memiliki sertifikasi kepelatihan dari  berbagai  macam  penataran, training,  dan coaching clinic. Namun kemampuan melakukan komunikasi   dalam   kepelatihan   belum   tentu  sepenuhnya dikuasai  oleh  kebanyakan pelatih.  Selain  tidak  adanya  fasilitas  khusus  pelatihan komunikasi kepelatihan dalam penataran, training dan coaching  clinic  juga  karena penunjukkan pelatih   umumnya   lebih   banyak  diutamakan  pada  kemampuan  teknik kecabangan  saja.

Jka kondisi ini dibiarkan maka peningkatan prestasi    atlet    di  setiap cabang olahraga  akan mengalami ketimpangan, dengan kata lain atlet secara individual belum tentu mampu menguasai teknik yang baik dan benar pada satu sisi dan secara akumulasi prestasi olahraga secara umum tidak  akan meningkat  serta  cenderung  akan mengalami  kondisi  stagnan. Hal  ini  tentunya akan  menjadi kendala  dalam  peningkatan prestasi atlet di setiap cabang olahraga yang  akan  berpengaruh  pada prestasi  di tingkat  nasional dan internasional,  tujuan  jangka  pendek yaitu pencarian bibit atlet muda untuk regenerasi tidak akan tercapai.


Prestasi yang dicapai oleh seorang atlet tidak bisa dilepaskan dari peran pelatih dalam hal ini bertindak sebagai pemimpin dan pembina atlet dalam latihan maupun dalam pertandingan guna mencapai prestasi yang diharapkan. Komunikasi antara pelatih dengan atlet dinilai sangat penting dalam meningkatkan prestasi atlet maka pentinya yang dilakukan oleh pelatih adalah melakukan komunikasi yang bersifat dua arah dan membangun hubungan baik atau dapat disebut dengan komunikasi interpersonal.

 Beberapa pokok permasalahan harus diperhatikan oleh Pelatih atau stake holder pengguna jasa :

  1. Bagaimanakah kompetensi berkomunikasi pelatih sebagai pemimpin dalam pembinaan prestasi atlet  
  2. bagaimanakah peran pelatih dalam membangun komunikasi sebagai motivator dalam pembinaan atlet.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka perlu adanya standarisasi berkomunikas Pelatih kepada atlit dan lingkungan kerja dipastikan bahwa Pelatih memiliki kompetensi berkomunikasi face to face (tatap muka) para pelatih harus mau dengan jiwa besar (sportivitas) mau mengukur kompetensi yang dimiliki dalam berkomunikasi danmau untuk meningkatkan jika masih belum memenuhi  standarasisai yang ada.

kompetensi ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang dibutuhkan dalam menyajikan/melaksanakan pelatihan (face to face). Standarisasi yang

diperlukan untuk memastikan kompetensi Pelatih dalam berkomunikasi ada pada tabel di bawah ini :


Konteks variabel

  1. Kompetensi ini berlaku untuk menjalin hubungan kerja yang baik pada situasi latihan, menerapkan pelatihan yang tepat dalam melatih, memonitor proses latihan dalam situasi pelatihan yang digunakan untuk melaksanakan program latihan.
  2. Pelatihan yang dimaksud adalah coaching, konseling dan mentoring.

 Standar

  1. Standar kompetensi komunikasi terkait dengan program latihan.
  2. Tata tertib atlet atau yang relevan.

PANDUAN PENILAIAN.

Konteks penilaian

  1. Penilaian dilakukan pada aspek pengetahuan, keterampilan, sikapkerja, proses dan hasil yang dicapai dalam melaksanakan pelatihan.

Kondisi penilaian merupakan aspek dalam penilaian yang sangat berpengaruh atas tercapainya kompetensi tersebut yang terkait dengan menjalin hubungan kerja yang baik pada situasi latihan, menerapkan komunikasi yang tepat dalam situasi pelatihan, memonitor proses latihan dalam situasi pelatihan untuk  mamastikan latihan bagian dari program pelatihan.

  1. Penilaian dapat dilakukan dengan kombinasi metode: lisan, tertulis,observasi, dan atau portofolio.
  2. Penilaian dapat dilaksanakan di salah satu atau kombinasi dari: Lapangan, kelas.

 Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan.

  1. Hubungan kerja yang baik antara atlet dengan Pelatih  dalam proses latihan
  2. Program latihan yang sesuai dengan situasi pelatihan.
  3. Hirarki dan urutan proses pelatihan.

 Keterampilan

  1. Mewujudkan hubungan kerja yang baik antara atlet  dengan pelatih dalam bentuk saling memahami peran masingmasing.
  2. Membimbing atlet.
  3. Melaksanakan proses pelatihan.

 Sikap kerja yang diperlukan

1.   Konsistensi dalam menjaga kontak dengan peserta pelatihan.

 Aspek kritis

 Ketepatan dalam mengelola pelatihan dan tempat pelatihan.

Maka dapat diketahui bahwa betapa pentingnya sikap keterbukaan pelatih saat latihan maupun lomba, adanya sikap empati pelatih untuk atlet seharusnya lebih mendapat perhatian, sikap mendukung yang sangat membantu dalam peningkatan prestasi atlet, pentingnya sikap positif dalam program latihan atlet untuk meningkatkan prestasi, dan pentingnya sikap kesetaraan pelatih kepada seluruh atlet.

“PELATIH ADALAH MITRA ATLET DALAM BERLATIH”


KESIMPULAN

Pelatih dalam menjalankan profesinya memerlukan falsafah, agar mampu membina dan membentuk karakter, terutama Pelatih yang melatih atlet usia dini atau pembibitan atlet yang harus di tekankan adalah pembinaan untuk pembentukan karakter dan mental antara lain :

 1) Sportif, tekun dan disiplin.

2) Memiliki stabilisasi emosi yang baik dan terkontrol.

3) Membangun percaya diri.

4) Membangun moral yang baik. 

5) Mampu mengembangkan fungsi otot dan faal,

6) Membangun semangat dan selalu ingin mengembangkan diri.

Pelatih merupakan role model yang akan menjadi contoh dan panutan bagi  atlet-atlet usia dini, yunior atau pemula, semua perilaku pelatih akan menjadi acuan dan akan menjadi sorotan atlet dan masyarakat pada umumnya. Contoh-contoh positif dari pelatih akan membantu atlet dalam pembentukan karakter dan mental atlet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOMPETENSI KOMUNIKASI PELATIH TERHADAP PRESTASI

Kemampuan  teknis  kecabangan  umumnya pasti dikuasai oleh pelatih karena mereka yang berprofesi sebagai pelatih melalui pendidikan formal a...